Rumah Adat Kariwari
01
Agu

Rumah Adat Kariwari

Rumah Adat KariwariRUMAH ADAT KARIWARI

Rumah Adat Papua – Jika pada artikel sebelumnya sudah kita bahas mengenai rumah adat papua, yaitu rumah adat ebei (Baca juga : Rumah Adat Ebei). Nah pada kesempatan kali ini, mari kita bahas mengenai jenis rumah adat Papua yang lainnya, yaitu rumah adat kariwari.

Sejarah Rumah Kariwari

 Rumah kariwari di Anjungan Papua terdiri atas dua lantai dan seluruhnya digunakan sebagai tempat pameran dan peragaan aspek budaya Papua, antara lain foto-foto berukuran besar, berbagai bentuk patung Asmat, panah beracun, perahu semang, kerang sebagai mata uang, pakaian perang dan pakaian upacara kepala suku, koteka, serta patung yang memeragakan upacara adat pembuatan tato di punggung seorang anak laki-laki yang menginjak dewasa.
Pameran dilengkapi dengan awetan berbagai satwa, misalnya kus-kus, kanguru, berbagai jenis buaya, burung dara bermahkota, ular berkaki empat atau kadal lidah biru, dan burung cenderawasih.
Seluruh ruang kariwari diberi ragam hias berupa lukisan, ukiran, serta patung. Benda-benda seperti tengkorak dan rahang babi, kanguru, punggung penyu, taring babi, busur dan anak panah, gelang-gelang rotan, dan tor (kayu besar berukir pemukul lesung pada waktu menari) diletakkan dengan cara digantung menghiasi ruang pameran. Patung-patung melambangkan nenek moyang dan sekaligus sebagai alat untuk mendatangkan roh nenek moyang pada waktu upacara pemujaan. Adapun ukiran serta lukisan selalu berhubungan dengan kepercayaan, cerita, dan mitos tentang asal mula penduduk Papua.
Di depan kariwari terdapat sebidang para-para dari kayu bulat, digunakan untuk rapat atau pertemuan dan pesta adat, yang di anjungan ini digunakan sebagai panggung pementasan seni tari dan musik serta duakali dalam seminggu digunakan latihan sanggar tari yang terbuka untuk umum. Di sini pula terdapat seniman Asmat memeragakan pembuatan patung mbis. Pengunjung dapat belajar membuat ukiran Asmat, sekaligus menimba pengalaman yang amat langka. Siapa tahu hasilnya bagus sehingga bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh.
Bangunan lain adalah sili, yakni pemukiman suku Dani di lembah Baliem, pedalaman Papua; terdiri atas honay, yakni rumah beratap bulat seperti jamur untuk laki-laki, ebei honay untuk wanita, dan wanay honay untuk babi. Bangunan ini terdiri atas dua lantai: di bawah untuk makan, memasak, dan kegiatan sehari-hari, sedang di atas untuk tidur.