Mengenal Bangunan Sanggah Part 2
01
Agu

Mengenal Bangunan Sanggah Part 2

Mengenal Bangunan Sanggah Part 2MENGENAL BANGUNAN SANGGAH PART 2

Bangunan Adat Bali – Sejarah bangunan sanggah Bali adalah saat pembangunan terdapat beberapa versi, yaitu terdapat 3 versi. Sudah kita bahas pada artikel sebelumnya bukan? Jika Anda belum membaca, Anda bisa KLIK DISINI. Nah yang sudah paham bagaimana saja sih sejarah bangunan sanggah, yuk kita lebih lanjut mengenal jenis bangunan satu yang unik ini.

Pembagian Sanggah Pemerajan

Sanggah Pemerajan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut:

  1. Sanggah Pamerajan Alit (milik satu keluarga kecil)
  2. Sanggah Pamerajan Dadia (milik satu soroh terdiri dari beberapa ‘purus’/ garis keturunan)
  3. Sanggah Pamerajan Panti (milik satu soroh terdiri dari beberapa Dadia dari lokasi Desa yang sama)

Baca juga : Kontraktor Terima Jasa Bangun

Sedangkan untuk Pelinggih yang ada di Sanggah Pemerajan, yaitu sebagai berikut

  1. Sanggah Pamerajan Alit : Padmasari, Kemulan Rong Tiga, Taksu
  2. Sanggah Pamerajan Dadia : Padmasana, Kemulan Rong Tiga, Limas Cari, Limas Catu, Manjangan Saluang, Pangrurah, Saptapetala, Taksu, Raja Dewata
  3. Sanggah Pamerajan Panti : Sanggah Pamerajan Dadia ditambah dengan Meru atau Gedong palinggih Bhatara Kawitan

Pelinggih-pelinggih umum yang ada di Sanggah Pemerajan merupakan stana dalam niyasa Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur yang dipuja. Penjelasan yang stana pada setiap pelinggih sebagai berikut:

  • Kemulan Rong Tiga yaitu Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru . Selain itu juga ada kemulan rong 1 (Sanghyang Tunggal), rong 2 (Arda nareswari), rong 4 (Catur Dewata), rong lima (Panca Dewata).
  • Padmasana/ Padmasari yaitu Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa.
  • Sapta Petala yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai pertiwi dengan tujuh lapis: patala, witala, nitala, sutala, tatala, ratala, satala.  Sapta petala juga berisi patung naga sebagai simbol naga Basuki, pemberi kemakmuran.
  • Taksu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Bhatari Saraswati (sakti Brahma) penganugrah pengetahuan.
  • Limascari dan  Limascatu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai ardanareswari: pradana – purusha, rwa bhineda.
  • Pangrurah yaitu Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu.
  • Manjangan Saluwang yaitu Pelinggih sebagai penyungsungan Mpu Kuturan, mengingat jasa-jasa beliau yang meng-ajegkan Hindu di Bali.
  • Raja-Dewata yaitu Pelinggih roh para leluhur (di bawah Bhatara Kawitan).

Baca juga : Kontraktor Solusi Pembangunan Anda

Jika dalam pembangunan Sanggah Pemerajan semeton bingung yang manakah yang baik atau lebih tepat dalam memilih menggunakan konsep dari Mpu Kuturan , Danghyang Nirarta atau konsep kombinasi dari keduanya. Sebenarnya semeton bisa menggunakan konsep yang mana saja sesuai dengan keyakinan masing-masing.  Jika dikutip dari pendapat Bhagawan Dwija

” memakai kedua konsep, atau kombinasi a dan b adalah yang tepat karena kita menghormati kedua-duanya, dan kedua-duanya itu benar, mengingat Sanghyang Widhi ada di mana-mana, baik dalam kedudukan horizontal maupun dalam kedudukan vertikal.”

JASA ARSITEK DAN KONTRAKTOR  merupakan solusi bagi Anda yang ingin membangun rumah hunian, kost ekslusif, apartemen atau bangunan lainnya. Konsultasi Gratis KLIK DISINI. Hubungi kami di  WA : 0857 4300 6666