18
Okt

Membuat Pondasi Anti Gempa

Membuat Pondasi Anti Gempa

Membuat Pondasi Anti Gempa – Konsep tahan gempa pada dasarnya membuat seluruh bagian rumah menjadi kesatuan yang utuh. Dengan begitu bagian bangunan tersebut tidak dapat mudah runtuh akibat gempa bumi. Penerapan konsepnya dimulai dari pondasi yang saling menyambung kuat dengan ke berbagai bagian rumah. Disertai pemilihan bahan bangunan dan pengerjaan yang tepat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat pondasi tahan gempa, berikut ulasannya.

 

1. Pondasi Anti Gempa Harus Terletak di Tanah yang Keras

Fungsi pondasi yang terutama adalah meyebarkan beban bangunan ke tanah. Jadi pastikan tanah dimana pondasi anti gempa yang dibuat memiliki kestabilan dan kekuatan yang cukup keras. Bila dirasa kurang keras dan kurang stabil maka diperlukan pekerjaan pendahuluan untuk memperkuat lapisan tanah dasar untuk pondasi.

Pada saat setelah penggalian tanah untuk konstruksi pondasi telah selesai disarankan untuk membiarkan selama beberapa hari agar tanah cukup padat dengan cara menyiram dan memadatkannya secara manual. Bila tidak cukup padat bisa menambahkan lapisan sirtu (pasir batu) ke lapisan dasar pondasi dan memadatkannya menggunakan stamper agar lapisan dasar tanah untuk pondasi benar-benar keras.

2. Pondasi Terletak Cukup Dalam dari Muka Tanah

Pondasi batu kali apabila digunakan sebagai pondasi anti gempa sekurang-kurangnya memiliki kedalaman 45 cm dari muka tanah untuk bangunan satu lantai. Sedangkan untuk bangunan rumah dua lantai maka sekurang-kurangnya memiliki kedalaman hingga 60 cm agar mampu menahan beban bangunan diatasnya.

Bisa saja bangunan dua lantai menggunakan pondasi batu kali dengan kedalaman 45 cm namun di titik tertentu seperti lokasi kolom dan pertemuan dinding sebaiknya ditambahkan pondasi telapak atau pondasi sumuran dibawahnya.

3. Pondasi dibuat Menerus

Pondasi batu kali yang dirancang tahan gempa harus dibuat menerus tanpa terputus. Seringkali demi menghemat material pemborong atau tukang memotong lajur pondasi dibawah pintu dengan alasan bagian pondasi dibawah kusen pintu tidak menahan beban rumah.

Memang benar tidak menahan beban bangunan, namun dari aspek ketahanan terhadap gempa bumi maka lajur pondasi yang terputus akan berakibat buruk pada bangunan karena getaran yang terjadi saat gempa tidak tersalurkan dan tersebarkan secara merata ke seluruh bagian bangunan. Akibatnya sering timbul penurunan pondasi secara lokal yang akan membuat tembok bangunan retak atau lebih buruk lagi roboh.

4. Membuat Balok Pengikat Pondasi

Setelah badan pondasi batu kali sudah dibuat maka langkah selanjutnya adalah membuat balok pengikat pondasi (sloof) yang terbuat dari beton. Fungsi sloof ini mendistribusikan beban bangunan secara merata ke badan pondasi. Penggunaan sloof tidak hanya berlaku pada pondasi menerus tapi juga pada pondasi stempat dengan tujuan yang kurang lebih sama. Pada pondasi batu kali, badan sloof perlu diikat dengan angker di sepanjang jarak setengah meter agar kedudukan sloof benar-benar kokoh diatas pondasi.

5. Pondasi, Sloof, dan Kolom Terikat Satu Sama Lain

Agar rumah anti gempa maka pastikan pondasi, sloof, dan kolom benar-benar terintegrasi dengan kokoh dengan saling terikat satu sama lain khususnya pada pembesian sehingga saat gempa terjadi ke semua komponen kontruksi tersebut dapat menahan getaran yang timbul dan mendistribusikannya secara merata ke bagian konstruksi lainnya.

 

Demikian teknik pembuatan pondasi batu kali tahan gempa dan satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatannya pastikan bahwa adukan atau mortar yang digunakan memiliki campuran yang baik dan mutu beton yang digunakan minimal K-125.

Selamat membangun.